Daily Estate ID, Bandung.
Media sosial telah menjadi ladang peluang bagi siapa saja, termasuk ibu rumah tangga yang ingin berkarya, membangun personal branding, hingga meraih penghasilan tambahan dari konten digital.
Namun, di balik peluang yang menjanjikan tersebut, ada satu pertanyaan penting yang sering terabaikan: seberapa aman membagikan kehidupan sehari-hari di media sosial tanpa mengorbankan privasi keluarga? Temukan cara cerdas menjaga keseimbangan antara menjadi kreator konten yang sukses dan melindungi orang-orang terdekat.
"Jumlah pengikut bisa bertambah dalam semalam, tetapi privasi yang hilang belum tentu bisa kembali."
Baca juga:
- The Zora BSD City Gandeng Mitsubishi, Peluang Investasi atau Sekadar Optimisme Pasar?
- Bandung Butuh Lebih dari Wisata Belanja, Ini Langkah SMN dan Artotel Group
- Mau Beli Rumah di Pondok Cabe? Simak Dulu Fakta Casa Delia Residence Sebelum Deal
Daily Poin:
1. ARS University melatih ibu rumah tangga memanfaatkan aktivitas sehari-hari sebagai konten media sosial yang edukatif dan bernilai ekonomi.
2. Pelatihan menekankan pentingnya etika digital, storytelling, serta menjaga batas privasi keluarga di tengah maraknya budaya berbagi di media sosial.
3. Literasi digital dinilai sama pentingnya dengan kemampuan membuat konten agar media sosial menjadi ruang produktif, aman, dan bermanfaat bagi publik.
Isu tersebut menjadi fokus kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang digelar tim dosen ARS University melalui pelatihan bertema "Dari Rumah ke Ruang Digital: Kreativitas Ibu Rumah Tangga dalam Menciptakan Konten Media Sosial untuk Pengembangan Diri" di Komplek Mekar Sari Eco Living, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.
Pelatihan yang diikuti puluhan ibu rumah tangga itu tidak hanya mengajarkan teknik membuat konten, tetapi juga menekankan pentingnya etika digital, keamanan bermedia sosial, dan pemanfaatan platform digital sebagai sarana pengembangan diri maupun ekonomi kreatif.
Ketua Tim PkM ARS University, Rita Herlina, mengatakan media sosial telah berkembang menjadi ruang aktualisasi diri yang dapat dimanfaatkan secara produktif.
"Ibu rumah tangga memiliki segudang kreativitas dan cerita inspiratif setiap harinya. Melalui program ini, kami ingin memberikan keterampilan praktis agar para ibu mampu mengemas cerita tersebut menjadi konten yang menarik, positif, dan terstruktur. Ini adalah langkah nyata dari rumah menuju ruang digital untuk pengembangan potensi diri mereka," ujar Rita Herlina, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Jumat, 18 Juli 2026.
Baca juga:
Dalam sesi pelatihan, narasumber Eli Susana menjelaskan bahwa ibu rumah tangga tidak perlu mencari ide yang rumit untuk memulai menjadi kreator konten. Aktivitas sehari-hari justru menjadi sumber konten yang paling dekat dengan kebutuhan audiens.
Sementara itu, narasumber Femi Oktafiani membagikan strategi agar proses produksi konten tidak menjadi beban baru bagi para ibu.
"Kuncinya ada pada konsistensi dan teknik bercerita (storytelling) yang jujur. Ibu-ibu bisa memanfaatkan konsep A Day in My Life dalam bentuk video pendek. Pengambilan gambar bisa dicicil saat melakukan aktivitas harian, lalu diedit menggunakan aplikasi smartphone yang ramah pemula. Jangan takut tidak sempurna, karena penonton di media sosial hari ini lebih menyukai konten yang natural dan apa adanya," tambah Femi.
Baca juga:
- Liburan Mewah Syifa Hadju di Lake Como Banjir Pujian, Netizen Sebut Makin Bersinar
- Viral di Medsos, Lembur Katumbiri Dago Bandung Jadi Magnet Wisata
Diskusi menjadi semakin menarik ketika salah satu peserta mengangkat persoalan yang kerap menjadi kegelisahan banyak orang tua saat aktif di media sosial.
"Kami sebenarnya tertarik untuk mulai membuat konten, tapi di sisi lain ada ketakutan tersendiri. Bagaimana cara kita menyikapi pengaruh negatif media sosial, seperti adanya penyakit 'ain atau pandangan iri dengki dari orang lain saat kita membagikan aktivitas keluarga atau anak di media sosial?" tanya salah satu peserta dengan antusias.
Pertanyaan tersebut dijawab oleh narasumber Nila Nurlimah yang menekankan pentingnya batasan antara berbagi manfaat dan mengekspos kehidupan pribadi.
"Kekhawatiran mengenai penyakit 'ain atau dampak negatif pandangan orang lain adalah hal yang sangat wajar dan valid. Kuncinya terletak pada batasan privasi (privacy boundary). Kita harus membedakan antara konten yang edukatif dan konten yang sifatnya pamer (flexing). Solusinya, fokuslah pada membagikan manfaat atau prosesnya, bukan hasil kemewahannya. Misalnya, bagikan tips resep bekal anak yang hemat, bukan fokus menampilkan wajah anak secara berlebihan atau barang-barang mahal. Dengan niat berbagi ilmu dan tetap menjaga privasi keluarga, kita bisa meminimalisasi dampak negatif psikologis maupun pandangan buruk dari luar," jawab Nila.
Pelatihan ditutup dengan kuis interaktif, pembagian hadiah, dan goodie bag bagi peserta. Namun, pesan utama kegiatan ini tidak berhenti pada kemampuan membuat video atau mengedit konten.
Di tengah maraknya budaya mengejar jumlah pengikut dan viralitas, literasi digital justru menjadi kebutuhan paling mendasar. Konten yang bermanfaat tidak selalu harus membuka seluruh sisi kehidupan pribadi. Sebaliknya, kemampuan menjaga privasi, menghormati keluarga, serta membangun komunikasi yang sehat di ruang digital menjadi bekal penting agar media sosial benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini, ARS University menegaskan komitmennya menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan mendorong masyarakat lebih percaya diri, produktif, sekaligus bijak memanfaatkan ruang digital.
Baca juga:
ARTOTEL Suites Aquila Bandung Resmi Hadir, Bidik Pasar Bisnis dan Wisata di Kawasan Pasteur
Di era semua orang ingin jadi kreator konten, jangan sampai anak dan keluarga berubah menjadi 'konten permanen' tanpa sadar.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #LiterasiDigital #KontenPositif #IbuRumahTangga #EkonomiKreatif #ARSUniversity

.jpeg)
0 Komentar