Daily Estate ID, Bandung.
Bandung selama ini identik dengan wisata belanja dan kuliner. Namun, di balik citra tersebut, masih banyak potensi sejarah, industri, dan ekonomi kreatif yang belum memperoleh ruang promosi setara. Melihat celah itu, Sindikasi Media Network (SMN) bersama Artotel Group menggelar media gathering bertajuk "Let's Go, Let's Grow" pada 14–15 Juli 2026 dengan melibatkan sekitar 40 jurnalis dari berbagai media nasional dan daerah.
"Kalau promosi wisata hanya berhenti di foto bersama, jangan heran kalau potensi daerah ikut berhenti berkembang."
Baca juga:
- Mau Beli Rumah di Pondok Cabe? Simak Dulu Fakta Casa Delia Residence Sebelum Deal
- Final Piala Dunia 2026: Tiga Duel Penentu Spanyol vs Argentina yang Bisa Mengubah Sejarah
- Trauma New Jersey Menghantui Messi, Argentina Bidik Gelar Dunia di Final Piala Dunia 2026
Daily Poin:
1. SMN dan Artotel Group mempertemukan sekitar 40 jurnalis untuk mengeksplorasi potensi wisata sejarah, industri, budaya, dan hospitality di Bandung.
2. Kolaborasi melibatkan ARTOTEL Suites Aquila Bandung, PT Dirgantara Indonesia, Rooms Inc. d'Botanica, de Braga by ARTOTEL, Museum Konferensi Asia Afrika, hingga Rumah Batik Komar sebagai bagian dari ekosistem pariwisata.
3. Kegiatan dinilai menjadi langkah positif, tetapi efektivitasnya tetap perlu diukur melalui dampak nyata terhadap kunjungan wisata, ekonomi lokal, dan pelestarian budaya, bukan hanya jumlah publikasi.
Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan media atau promosi hotel. Yang menjadi sorotan justru upaya membangun narasi baru bahwa sektor pariwisata dapat berkembang melalui kolaborasi lintas sektor, mulai dari industri perhotelan, manufaktur dirgantara, pelestarian budaya, hingga warisan sejarah.
Selama dua hari, peserta mengunjungi ARTOTEL Suites Aquila Bandung, Rooms Inc. d'Botanica Bandung, de Braga by ARTOTEL, PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Museum Konferensi Asia Afrika, hingga Rumah Batik Komar.
General Manager ARTOTEL Suites Aquila Bandung, Anton Susanto, menegaskan bahwa industri hospitality tidak bisa lagi hanya menjual kamar.
"Kami ingin tamu tidak hanya menginap, tetapi juga menikmati berbagai pengalaman yang dimiliki Kota Bandung. Karena itu, kami membangun kolaborasi dengan berbagai mitra agar wisatawan memperoleh pengalaman yang lebih bermakna."
Baca juga:
- Liburan Mewah Syifa Hadju di Lake Como Banjir Pujian, Netizen Sebut Makin Bersinar
- Viral di Medsos, Lembur Katumbiri Dago Bandung Jadi Magnet Wisata
- ARTOTEL Suites Aquila Bandung Resmi Hadir, Bidik Pasar Bisnis dan Wisata di Kawasan Pasteur
Pernyataan tersebut diwujudkan melalui kolaborasi dengan PT Dirgantara Indonesia dalam program Edutainment Factory Tour. Program ini mengajak wisatawan menyaksikan langsung proses industri pesawat nasional sekaligus memperkenalkan teknologi karya anak bangsa sebagai bagian dari destinasi wisata edukasi.
Di PTDI, peserta memperoleh gambaran mengenai perkembangan industri dirgantara Indonesia, mulai dari produksi CN235, NC212, hingga pengembangan N219. Manager Institutional Relation and Corporate Communication PTDI, Adi Prastowo, menjelaskan bahwa wisata edukasi menjadi investasi jangka panjang dalam membangun minat generasi muda terhadap dunia penerbangan.
"Kami telah bekerja sama dengan Airbus hampir 50 tahun dan Bell Textron sekitar 40 tahun. Untuk helikopter, PTDI memproduksi struktur badan pesawat di Indonesia, kemudian dikirim ke Airbus untuk pemasangan sistem dan mesin sebelum kembali ke PTDI untuk proses penyesuaian (customization), finishing, dan diserahkan kepada pelanggan."
Ia juga menambahkan:
"Kami berharap setelah berkunjung ke PTDI, anak-anak memiliki cita-cita menjadi pilot, insinyur, maupun profesi lain di industri penerbangan. Itulah semangat yang ingin kami bangun melalui Edutainment Factory Tour."
Dari sektor hospitality, Rooms Inc. d'Botanica Bandung menghadirkan konsep berbeda. Hotel tidak lagi diposisikan hanya sebagai tempat bermalam, melainkan ruang sosial yang menghubungkan wisatawan dengan aktivitas bisnis, komunitas, hingga gaya hidup urban.
General Manager Rooms Inc. d'Botanica Bandung, Tin Kartini, mengatakan:
"Kami ingin menghadirkan pengalaman menginap yang lebih dari sekadar akomodasi. Rooms Inc. menjadi social hub yang menghubungkan tamu dengan berbagai aktivitas, mulai dari bekerja, bersantai, menikmati kuliner, hingga mengakses berbagai fasilitas dalam satu kawasan."
Ia menambahkan:
"Kami mengusung konsep one stop living. Tamu dapat menginap, berbelanja, menikmati hiburan, hingga mengadakan pertemuan dalam satu kawasan yang saling terintegrasi."
Konsep serupa juga diperkuat melalui de Braga by ARTOTEL yang menghubungkan pengalaman menginap dengan wisata heritage di kawasan Braga dan Museum Konferensi Asia Afrika.
Di museum tersebut, rombongan mempelajari sejarah Konferensi Asia Afrika 1955, melihat koleksi jurnalistik, ruang sidang bersejarah, hingga memahami kembali posisi Indonesia sebagai penggagas solidaritas negara-negara Asia dan Afrika.
Baca juga:
- de Braga by ARTOTEL Bidik Wisatawan Lewat Pengalaman Menginap Berbasis Seni di Kawasan Braga
- Kamar Kost Sempit Bukan Masalah, Ini 9 Cara Menyulapnya Jadi Cozy
- Jadeite Residence BSD City, Rumah Eksklusif dengan Layanan Bak Apartemen
Eksplorasi budaya berlanjut di Rumah Batik Komar. Pendiri Rumah Batik Komar, Dr. H. Komarudin Kudiya, mengingatkan masih banyak masyarakat yang belum memahami hakikat batik.
"Orang sering melihat batik hanya dari tampilannya. Padahal batik memiliki proses, ekspresi, dan nilai budaya yang tidak dimiliki kain bermotif batik hasil cetak."
Rumah Batik Komar juga memperkenalkan berbagai inovasi alat membatik, termasuk Batik Pendulum, tanpa menghilangkan prinsip dasar batik sebagai warisan budaya yang menggunakan malam panas dalam proses pembuatannya.
Melalui tema "Let's Go, Let's Grow", Ketua Sindikasi Media Network, Arief Suharto, menegaskan bahwa kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat sinergi media dalam mengangkat potensi daerah melalui pendekatan storytelling, edukasi, dan kolaborasi lintas sektor.
| Bandung punya sejarah kelas dunia. Ironisnya, yang sering viral justru antrean kopi dan diskon factory outlet. Foto: SMN/Kuncoro WR |
Meski demikian, tantangan sesungguhnya bukan sekadar menggelar media gathering. Yang lebih penting adalah memastikan promosi pariwisata benar-benar berdampak pada peningkatan kunjungan, pemberdayaan pelaku usaha lokal, pelestarian budaya, serta pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Tanpa ukuran keberhasilan yang jelas, kegiatan promosi berisiko berhenti sebagai agenda seremonial.
Kolaborasi antara media, industri perhotelan, sektor manufaktur, pelaku budaya, dan pemerintah menjadi langkah positif. Namun, publik tetap membutuhkan indikator nyata bahwa sinergi tersebut mampu memperkuat daya saing pariwisata Bandung secara berkelanjutan, bukan sekadar memperbanyak publikasi.
Baca juga:
Kanopi Minimalis Jadi Tren, Jangan Sampai Salah Pilih Material
Bandung punya sejarah kelas dunia. Ironisnya, yang sering viral justru antrean kopi dan diskon factory outlet.
#DailyEstateID member of #GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Bandung #PariwisataIndonesia #WisataEdukasi #Hospitality #EkonomiKreatif #HeritageTourism
.jpg)
0 Komentar